Bumi Multatuli, Simpul Strategis Perniagaan Emas Hitam

    Sepasang mata nampak tak sanggup berkedip, saujanah pelabuhan kota ini.

Kapal-kapal yang selama ini terlihat sesekali di pelabuhan internasional, kini

terlihat begitu ramai, Jung Jawa begitu mereka menyebutnya. Rasanya tak sia sia

perjuangan menantang maut yang ditempuh pemuda ini. Bahkan ia rela meninggalkan

kehidupan mewah sebagai putra seorang produsen minuman keras ternama di

negerinya, demi menemukan kota pelabuhan ini (Masellman, 1963). Menyamar menjadi

awak kapal negara tetangga, mendapatkan peta rahasia hingga mengarungi laut yang

belum terjamah dengan berbagai polemiknya membuat ia berhasil mendarat. Namun,

siapa sangka ialah Cornelis De Houtman, seorang kapten kapal Belanda yang

terkenal kurang cakap yang berhasil menemukan simpul strategis perniagaan emas

hitam. Emas hitam, atau sering dikenal dengan nama lada/merica merupakan biji

tanaman sulur yang mempunyai nama latin Piper nigrum, salah satu komoditas

rempah yang menggila dimasa lalu. Karena pesonanya lada dijuluki sebagai rajanya

rempah. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Malabar, India. Jack Turner dalam

Sejarah Rempah menulis bahwa kalau bukan karena keinginan dan nafsu yang kuat

untuk menemukan lokasi penghasil rempah, Cristopher Colombus tidak mungkin

menemukan benua Amerika dan membuat kesalahan besar dengan mengira sebuah pohon

cabai sebagai tanamn lada (Turner, 2011). Nafsu akan rempah-rempah tak dinyana

membuat bangsa barat bergerak sedemikian rupa. Demi rempah-rempah, kekayaan

datang dan pergi, kekuasaan dibangun untuk kemudian dihancurkan dan bahkan

sebuah dunia baru–dari perspektif orientalis–seperti daratan Amerika dan

Australia dapat ditemukan. Selama ribuan tahun, selera akan rempah-rempah

terbentang di sekujur planet bumi dalam proses mengubah dunia. Salah satu simpul

magnetik perniagaan yang strategis adalah Pelabuhan Banten dengan emas hitam

sebagai komoditas utamanya.


Dari Lubang Hidung hingga Kolonialisme, Sebuah Perjalanan

Pada setengah milenium abad rempah menggambarkan prestise ekonomi seseorang,

cita rasa firdaus, jamuan para bangsawan hingga manfaat eksotisme dan erotisme

lainnya yang membuat komoditas ini begitu dicari. Misalnya saja, kaum Mesir Kuno

yang selalu membubuhkan rempah agar mumi Firaun (Raja Mesir Kuno) segera menuju

surga. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan lada hitam dalam lubang hidung

Firaun Ramses II tahun 1224 SM (Turner, 2011). Di Asia, lada berperan sebagai

komoditas utama hubungan dagang antara India dan Tiongkok sejak masa Dinasti

Han. Hal ini membuat Persia kemudian membuka jalur perdagangan yang membuat

negerinya menjadi kaya. (Yung-Ho, 1982). Permintaan lada yang semakin besar dari

pasar Tiongkok ke India akhirnya tidak mampu dipenuhi seluruhnya oleh para

pedagang Persia maupun India. Hal ini membuat Sriwijaya mengambil peran. Sebagai

sebuah Kerajaan Maritim yang berpengaruh pada saat itu, Sriwijaya turut memasok

lada sebagai salah satu penopang ekonominya. Tercatat pada masa Dinasti Song,

Sriwijaya pernah mengirim 10.750 kati atau senilai 5 ton lada (Yung Ho, 1982).

Sriwijaya mulai membudidayakan lada di daerah-daerah vassalnya, termasuk Banten.

Chau Ju Kua dalam catatannya menyebutkan daerah Jawa bagian barat

(Banten/Sunda), lada terbaik tumbuh bahkan lebih baik dari wilayah Tuban di

timur. Lada ini memiliki biji yang lebih kecil, namun memiliki ukuran yang lebih

berat dan rasa yang lebih tajam. (Hirth dan Rockhill, 1911). Tumbuhnya kualitas

lada terbaik ini yang kemudian menjadikan tanah Banten sebagai wilayah yang

makmur dibawah Kerajaan Banten Girang pada masa Hindu Buddha maupun Kesultanan

Banten di masa Islam. Para pedagang Tiongkok menjadikan Banten sebagai pelabuhan

penghubung atau pengumpul komoditas (entreport) dari lalu lintas perdagangan

Tuban-Palembang atau Semenanjung Malaya. Kenneth Hall menyatakan bahwa para

penguasa jalur perdagangan antar Selat Sunda hingga Selat Malaka merupakan

penentu arus perdagangan timur dan barat. (Hall, 2011). Si raja rempah nampaknya

dapat dimaknai seperti dua keping mata uang yang berbeda. Disatu sisi, Banten

menjadi daerah makmur karena potensi lada terbaik dan strategisnya wilayah,

namun sisi ini menjadi sebuah petaka ketika banyak wilayah yang tertarik

menguasai. Dimulai dari ekspansi Kerajaan Demak yang berhasil menjadi kota

kosmopolitan yang disinggahi pedagang Asia seiring dengan melemahnya Majapahit.

(Lombard, 1996). Demak kemudian memperluas wilayahnya hingga ke Banten. Pada

periode berdirinya Dinasti Islam di Nusantara kota-kota niaga mencapai puncak

kejayaan dalam waktu yang tidak lama. Kedatangan bangsa Eropa yang memiliki niat

awal membeli rempah berubah menjadi ajang perlombaan memonopoli daerah-daerah

penghasil rempah. Keadaan semakin buruk ketika orang-orang Eropa membuat kongsi

dagang monopolinya. Stavorinus menyatakan bahwa tahun 1682, wilayah Banten

selalu berada dibawah pengawasan pasukan VOC (sebuah kongsi dagang milik

Belanda), sehingga tidak sembarang orang dapat mengunjungi Banten. (Stavorinus,

1798). Kemudian Belanda mendirikan benteng dan pemerintahan diatas pemerintahan

Banten sekaligus mengakhiri masa kejayaan perniagaan emas hitam. Membawa Banten

pada petaka dan kehancuran yang tidak pernah terbayangkan sejak masa-masa

sebelumnya.


Kesimpulan

Bumi Multatuli telah memainkan posisi penting dalam arus dan jaringan perniagaan

di kawasan maritim Nusantara. Letak strategis Banten menjadi faktor yang sangat

memengaruhi peran penting Banten dalam lalu lintas perdagangan dunia sekaligus

menjadi pemasok komoditas perdagangan. Masyarakat Banten diperkirakan membangun

jaringan-jaringan bahari dengan para pedagang dari berbagai bangsa sehingga

menjadikan Pelabuhan Banten sebagai entreport yang menjual berbagai

produk-produk penting dari berbagai kawasan Nusantara dan wilayah lain di Asia.

Produksi si raja rempah (lada) maupun emas hitam (lada hitam) menjadi komoditas

utama yang menjadikan Banten memperoleh kejayaan dalam aktivitas perdagangan

lintas bahari. Lada terbaik yang kemudian tumbuh di Banten menjadikannya bandar

internasional. Lada hitam atau sering dikenal sebagai emas hitam merupakan

simbol kebangsawanaan, cita rasa surga, yang memiliki segudang pesona eksotik

hingga erotis pada masa lalu menjadikan ambisi bangsa lain untuk memonopoli

daerah penghasilnya. Penghasil lada terbaik nampaknya dapat dimaknai sebagai

berkah sekaligus musibah bagi tanah Banten. Namun, ini menjadi salah satu

khazanah kesejarahan Nusantara yang harus selalu diingat, dimaknai dan

direfleksikan sebagai ingatan kolektif dalam jati diri bangsa Indonesia.


Referensi


- Hall, Kenneth R. (2011). A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal Development, 100–1500. Plymouth: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

- Hirth, Friedrich dan W.W. Rockhill. (1911). 

- Chau Ju-kua: On the Chinese and. Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries. St. Petersburg: Printing Office of the Imperial Academy of Sciences. 

- Jack Turner, Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011

- Lombard, Denys. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 

- Masellman, George. (1963), The Cradleof Colonialism, New Haven: Yale Univ Press. 

- Meilink-Roelofsz, M. A. P.,(1962). Asian Trade and European Influence: In The Indonesian Archipelago Between 1500 and about 1630. The Hague: Martinus Nijhoff. 

- Stavorinus, John Splinter. (1798). Voyages to The East-Indies, Volume I-III. London: G. G. and J. Robinsor, Noster-Row. 

- Yung-Hao, Ts’ao. (1982). “Pepper Trade In East Asia”. T’oung Pao, LXVIII, 4-5 (1982), hlm. 221-247.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rempah-Rempah Maluku; Eksotisme Aroma Surga Para Dewa hingga Sensasi Seteguk Coca Cola